PRINSIP-PRINSIP KERAJAAN ALLAH

PENDAHULUAN
Sebelum kita menjadi orang percaya/menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat serta Raja kita, dahulunya kita berada di bawah kekuasaan setan/iblis (pemerintahan dan pimpinan setan). Yesus telah mengalahkan kuasa setan dan merebut kita dari kekuasaannya dan sekarang kita berada dalam Kerajaan Yesus (dalam kekuasaanNya), sebagaimana yang diungkapkan dalam Kolose 1:13-14, sebagai berikut: “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa”.
Keberadaan manusia yang berada di bawah kuasa setan, membuat manusia tidak mampu untuk hidup dalam terang Kerajaan Allah sebab manusia berada di bawah kekuasaannya; setan yang adalah produsen segala macam perbuatan yang destruktive telah mempropagandakan serta mempromosikan produksinya melalui orang-orang yang dikuasainya, hasilnya sangat “fantastis” dan banyak yang tergoda, tergiur serta terprovokasi oleh propaganda dan promosinya.
Tetapi Yesus yang adalah anak Allah, telah merebut serta melepaskan kita dari kuasa setan dan memindahkan kita dari gelap menuju TerangNya yang ajaib serta berada pada KerajaanNya ( Kolose 1:12; I Petrus 2:9-10). Karena kita sekarang adalah anak-anak dari Kerajaan Allah, maka kita sekarang berada di bawah kekuasaanNya (Matius 28:18), sehingga apapun yang kita lakukan harus dilaksanakan sesuai dengan koridor Kerajaan Allah.
DEFINISI KERAJAAN ALLAH
Menurut Alkitab, Kerajaan Allah berbicara tentang:
1. Suatu tempat (Matius 19:24; 21:31; 2 Tes.1:5)
2. Suatu sikon (Matius 6:33; Roma 14:17)
3. Suatu kuasa (Matius 12:28)
4. Suatu karakter (Markus 10:14-15, 23-25)
PRINSIP-PRINSIP KERAJAAN ALLAH
Menyimak mengenai definisi dari Kerajaan Allah, maka hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip Kerajaan Allah, adalah sesuatu yang berkaitan dengan:
1. Moralitas : adalah suatu sikap yang kontruktive yang harus dimiliki bagi setiap anak-anak terang yang telah dilepaskan dari kegelapan.
Kita harus benar-benar meninggalkan dan menanggalkan perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan pola hidup duniawi (Roma 12:2), selain itu hal-hal yang berkaitan dengan kedagingan juga harus ditanggalkan dari kehidupan kita (Galatia 5:19-21); dengan kata lain: “bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat” (Markus 1:15)
2. Integritas : adalah suatu sikap internal yang tulus yang harus dimiliki oleh setiap mereka yang telah hidup dalam Terang Kerajaan Allah.
Apa saja sikap internal tersebut? Perhatikan dalam Kolose 3:12:
a. Belas kasihan/Pity (Oiktirmon: penuh dengan belas kasihan dan perbuatan-perbuatan yang baik/ ada sikap simpaty dan empaty dalam menghadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan)
Aplikasinya: Melakukan perbuatan baik terhadap sesama, melakukan perbuatn baik terhadap saudara seiman, melakukan perbuatan baik terhadap musuh
b. Kemurahan/Mercy (Khrestoteta: kemurahan yang disertai dengan kebaikan yang benar-benar keluar dari dasar hati yang tulus)
Aplikasinya: Murah hati untuk memberi, murah hati untuk mengampuni, murah hati untuk mengembalikan milik Tuhan
c. Kerendahan hati/Kind feeling (Tapeinophrosunen: suatu sikap yang baik dan tidak menyimpan perasaan yang negatif serta mmenghargai orang lain dengan sikap yang simpaty dan empaty )
Aplikasinya: Rendah hati pada Tuhan, rendah hati pada atasan, rendah hati pada bawahan, rendah hati pada sesama kita
d. Kelemahlembutan/ Gentle ways (Praoteta: suatu sikap hidup yang lemah lembut dalam keadaan apapun juga)
Aplikasinya: Lemah lembut dalam berkata-kata, lemah lembut dalam karakter, lemah lembut dalam pergaulan
e. Kesabaran/ a low opinion of yourselves (Makrothumian: sikap hidup yang tekun dalam segala hal dan juga memiliki suatu ketahanan dalam menghadapi segala persoalan serta panjang sabar dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan)
Aplikasinya: Sabar dalam menghadapi persoalan, sabar dalam menghadapi tantangan,
sabar dalam menghadapi penderitaan
3. Dedikasi : adalah suatu sikap pengabdian kepada pribadi lain dalam rangka melakukan sesuatu serta untuk mencapai suatu gol.
Jemaat Tuhan serta Pelayan Tuhan (part time) dan para Hamba Tuhan (full time) haruslah benar-benar memiliki sikap pengabdian tersebut diatas. Sebab ibadah dan pelayanan tanpa pengabdian bagaikan “ember tanpa isi”. Kadangkala jemaat beribadah sebagai “kebiasaan”, para hamba-hamba Tuhan melayani dengan “motivasi tertentu” (mencari popularitas, sensasi, ingin dipuji dan sebagainya).
Yesus sebagai manusia sejati telah memberikan suatu teladan kepada kita perihal pengabdiannya sebagai hamba (Filipi 2:6-8)
4. Loyalitas : adalah sikap yang dalam kondisi apapun juga tetap eksis dalam melakukan segala sesuatu dan pantang menyerah.
Kondisi tersebut di atas adalah sikap yang juga harus dimiliki oleh setiap manusia kristiani apalagi bagi mereka yang telah terjun dalam pelayanan Tuhan yang kudus. Raja Salomo berkata: “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu dan tuliskanlah pada loh hatimu” (Amsal 3:3).
Loyalitas harus tetap dipertahankan sampai akhir hayat kita sebagaimana Yesus melakukan hal tersebut dan memberikan teladan kepada kita, sebagaimana yang diungkap dalam Filipi 2: 8 demikian: “ Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.
PENUTUP
Tak dapat dipungkiri, bahwa kita manusia penuh dengan segala macam keterbatasan. Justru dalam keterbatasan tersebut, Tuhan mengajak kita sekalian untuk mempertahankan nilai-nilai kerajaan Allah dalam kehidupan rohani kita masing-masing, sebab dengan demikian maka kita akan masuk dalam KerajaanNya yang telah disiapkan oleh Tuhan. Sebaliknya jika kita tidak melakukan prinsip-prinsip Kerajaan Allah, maka Firman Tuhan berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23.
Dengan demikian, marilah kita tetap mempertahankan nilai-nilai pertobatan kita di hadapan hadiratNya, sebagaimana ia berkata: “bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat” (Markus 1:15), amin.- (by: Paul Zaitun)
Sebelum kita menjadi orang percaya/menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat serta Raja kita, dahulunya kita berada di bawah kekuasaan setan/iblis (pemerintahan dan pimpinan setan). Yesus telah mengalahkan kuasa setan dan merebut kita dari kekuasaannya dan sekarang kita berada dalam Kerajaan Yesus (dalam kekuasaanNya), sebagaimana yang diungkapkan dalam Kolose 1:13-14, sebagai berikut: “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa”.
Keberadaan manusia yang berada di bawah kuasa setan, membuat manusia tidak mampu untuk hidup dalam terang Kerajaan Allah sebab manusia berada di bawah kekuasaannya; setan yang adalah produsen segala macam perbuatan yang destruktive telah mempropagandakan serta mempromosikan produksinya melalui orang-orang yang dikuasainya, hasilnya sangat “fantastis” dan banyak yang tergoda, tergiur serta terprovokasi oleh propaganda dan promosinya.
Tetapi Yesus yang adalah anak Allah, telah merebut serta melepaskan kita dari kuasa setan dan memindahkan kita dari gelap menuju TerangNya yang ajaib serta berada pada KerajaanNya ( Kolose 1:12; I Petrus 2:9-10). Karena kita sekarang adalah anak-anak dari Kerajaan Allah, maka kita sekarang berada di bawah kekuasaanNya (Matius 28:18), sehingga apapun yang kita lakukan harus dilaksanakan sesuai dengan koridor Kerajaan Allah.
DEFINISI KERAJAAN ALLAH
Menurut Alkitab, Kerajaan Allah berbicara tentang:
1. Suatu tempat (Matius 19:24; 21:31; 2 Tes.1:5)
2. Suatu sikon (Matius 6:33; Roma 14:17)
3. Suatu kuasa (Matius 12:28)
4. Suatu karakter (Markus 10:14-15, 23-25)
PRINSIP-PRINSIP KERAJAAN ALLAH
Menyimak mengenai definisi dari Kerajaan Allah, maka hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip Kerajaan Allah, adalah sesuatu yang berkaitan dengan:
1. Moralitas : adalah suatu sikap yang kontruktive yang harus dimiliki bagi setiap anak-anak terang yang telah dilepaskan dari kegelapan.
Kita harus benar-benar meninggalkan dan menanggalkan perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan pola hidup duniawi (Roma 12:2), selain itu hal-hal yang berkaitan dengan kedagingan juga harus ditanggalkan dari kehidupan kita (Galatia 5:19-21); dengan kata lain: “bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat” (Markus 1:15)
2. Integritas : adalah suatu sikap internal yang tulus yang harus dimiliki oleh setiap mereka yang telah hidup dalam Terang Kerajaan Allah.
Apa saja sikap internal tersebut? Perhatikan dalam Kolose 3:12:
a. Belas kasihan/Pity (Oiktirmon: penuh dengan belas kasihan dan perbuatan-perbuatan yang baik/ ada sikap simpaty dan empaty dalam menghadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan)
Aplikasinya: Melakukan perbuatan baik terhadap sesama, melakukan perbuatn baik terhadap saudara seiman, melakukan perbuatan baik terhadap musuh
b. Kemurahan/Mercy (Khrestoteta: kemurahan yang disertai dengan kebaikan yang benar-benar keluar dari dasar hati yang tulus)
Aplikasinya: Murah hati untuk memberi, murah hati untuk mengampuni, murah hati untuk mengembalikan milik Tuhan
c. Kerendahan hati/Kind feeling (Tapeinophrosunen: suatu sikap yang baik dan tidak menyimpan perasaan yang negatif serta mmenghargai orang lain dengan sikap yang simpaty dan empaty )
Aplikasinya: Rendah hati pada Tuhan, rendah hati pada atasan, rendah hati pada bawahan, rendah hati pada sesama kita
d. Kelemahlembutan/ Gentle ways (Praoteta: suatu sikap hidup yang lemah lembut dalam keadaan apapun juga)
Aplikasinya: Lemah lembut dalam berkata-kata, lemah lembut dalam karakter, lemah lembut dalam pergaulan
e. Kesabaran/ a low opinion of yourselves (Makrothumian: sikap hidup yang tekun dalam segala hal dan juga memiliki suatu ketahanan dalam menghadapi segala persoalan serta panjang sabar dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan)
Aplikasinya: Sabar dalam menghadapi persoalan, sabar dalam menghadapi tantangan,
sabar dalam menghadapi penderitaan
3. Dedikasi : adalah suatu sikap pengabdian kepada pribadi lain dalam rangka melakukan sesuatu serta untuk mencapai suatu gol.
Jemaat Tuhan serta Pelayan Tuhan (part time) dan para Hamba Tuhan (full time) haruslah benar-benar memiliki sikap pengabdian tersebut diatas. Sebab ibadah dan pelayanan tanpa pengabdian bagaikan “ember tanpa isi”. Kadangkala jemaat beribadah sebagai “kebiasaan”, para hamba-hamba Tuhan melayani dengan “motivasi tertentu” (mencari popularitas, sensasi, ingin dipuji dan sebagainya).
Yesus sebagai manusia sejati telah memberikan suatu teladan kepada kita perihal pengabdiannya sebagai hamba (Filipi 2:6-8)
4. Loyalitas : adalah sikap yang dalam kondisi apapun juga tetap eksis dalam melakukan segala sesuatu dan pantang menyerah.
Kondisi tersebut di atas adalah sikap yang juga harus dimiliki oleh setiap manusia kristiani apalagi bagi mereka yang telah terjun dalam pelayanan Tuhan yang kudus. Raja Salomo berkata: “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu dan tuliskanlah pada loh hatimu” (Amsal 3:3).
Loyalitas harus tetap dipertahankan sampai akhir hayat kita sebagaimana Yesus melakukan hal tersebut dan memberikan teladan kepada kita, sebagaimana yang diungkap dalam Filipi 2: 8 demikian: “ Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.
PENUTUP
Tak dapat dipungkiri, bahwa kita manusia penuh dengan segala macam keterbatasan. Justru dalam keterbatasan tersebut, Tuhan mengajak kita sekalian untuk mempertahankan nilai-nilai kerajaan Allah dalam kehidupan rohani kita masing-masing, sebab dengan demikian maka kita akan masuk dalam KerajaanNya yang telah disiapkan oleh Tuhan. Sebaliknya jika kita tidak melakukan prinsip-prinsip Kerajaan Allah, maka Firman Tuhan berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23.
Dengan demikian, marilah kita tetap mempertahankan nilai-nilai pertobatan kita di hadapan hadiratNya, sebagaimana ia berkata: “bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat” (Markus 1:15), amin.- (by: Paul Zaitun)


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda